TOPONIMI NUNUKAN DAN PULAU SEBATIK
Toponimi adalah ilmu atau studi tentang
nama-nama geografis. Toponim sendiri mempunyai arti penamaan unsur-unsur
geografis (Yulius. 2004:2). Nama-nama pulau, gunung, sungai, bukit, kota, desa,
dsb. adalah nama-nama dari unsur-unsur geografis muka bumi”. Dapat dilihat dari
pengertian diatas, yang menjadi objek kajian dari toponimi adalah penamaan
lokasi geografis yang memiliki kenampakan fisik dan kultural. Objek geografi
yang ada dipermukaan bumi akan teridentifikasi oleh panca indera manusia,
sehingga dengan nalurinya manusia memberikan nama pada tempat itu. Mengapa
manusia memberikan nama pada tempat itulah yang dikaji pada sebuah studi
toponimi.
Toponim sendiri mempunyai arti “penamaan
unsur-unsur geografis”. Nama-nama pulau, gunung, sungai, bukit, kota, desa,
dsb. adalah nama-nama dari unsur-unsur geografis muka bumi. Toponim pulau
merupakan langkah dalam identifikasi pulau dengan konsentrasi pada nama-nama
pulau (BRKP, 2003). Dalam penamaan pulau
ini diperhatikan beberapa hal menyangkut pembakuan suatu nama unsur geografis
(Rais, 2003), yaitu: 1.Pembakuan penulisan, ejaan nama geografis 2.Publikasi
resmi pemerintah: Gazetir Nama-Nama Geografis 3.Prosedur pemberian, perubahan dan penghapusan nama geografis
4.Riset, pelatihan dan pengembangan SDM Kegiatan toponim pulau mempunyai nilai
strategi nasional maupun internasional. Setiap Negara anggota PBB harus
melaporkan jumlah dan penamaan pulaunya kepada PBB setiap 5 tahun sekali (dalam
bentuk National Report), secara nasional merupakan tanggung jawab bersama semua
komponen bangsa (Rais, 1992).
Pulau
sebagai sumberdaya wilayah perlu didata baik posisi geografis, nama, kondisi
fisik, demografi, sarana dan prasarana serta data lain yang berguna bagi
pengelolaan wilayah. Dalam survei
toponim pulau, hal mendasar yang harus dipahami oleh seorang peneliti adalah
definisi pulau. Pulau yang dimaksud dalam toponim pulau adalah mengacu pada
definisi UNCLOS 1982 Bab VIII pasal 121,
yaitu:”Pulau adalah daerah daratan yang terbentuk secara alami yang dikelilingi
oleh air dan ada diatas permukaan air pada air pasang”. Definisi ini berlaku untuk daratan yang
berada diatas permukaan air pada waktu air pasang. Jika suatu daratan ditumbuhi
berbagai vegetasi yang pada waktu pasang tinggi tidak tenggelam, ia tetap tidak
dapat disebut sebagai pulau jika daratan yang menjadi platform-nya terendam air
dan tidak muncul dipermukaan.
Kabupaten Nunukan adalah salah satu kabupaten
di provinsi Kalimantan Utara. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Nunukan.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 14.493 km² dan berpenduduk sebanyak 109.527
jiwa dengan kepadatan 7,68 jiwa/km²(2004). Motto Kabupaten Nunukan adalah
"Penekindidebaya" yang artinya "Membangun Daerah" yang
berasal dari bahasa suku Tidung. Nunukan juga adalah nama sebuah kecamatan di
Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (BPS, 2004). Kabupaten Nunukan
merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Bulungan, yang terbentuk berdasarkan
pertimbangan luas wilayah, peningkatan pembangunan, dan peningkatan pelayanan
kepada masyarakat.
Kabupaten Nunukan merupakan kabupaten yang
terletak berbatasan langsung dengan negeri Jiran Malaysia. Kabupaten ini
memiliki pelabuhan lintas batas dengan kota Tawau, Malaysia. Bagi penduduk kota
Nunukan yang hendak pergi ke Tawau diperlukan dokumen PLB (Pas Lintas Batas).
Setiap hari rata-rata sekitar 8 unit kapal cepat dengan kapasitas kurang lebih
100 orang bolak-balik antar Nunukan dengan Tawau Malaysia. Di Kota Tawau
sendiri banyak sekali orang Indonesia (baik WNI/ atau warga Malaysia) yang
berasal dari Indonesia terutama dari suku bangsa Bugis Bone (BPS, 2004).
Kabupaten Nunukan dengan Pulau Sebatik dan pulau-pulau lainnya sebagai pulau
terluar Indonesia (bahkan posisinya lebih dekat ke Malaysia) hingga saat ini
belum banyak ‘disentuh’. Posisi pulau ini sangat strategis secara nasional
namun juga mencemaskan mengingat ‘kedekatannya’ dengan negara lain. Kasus lepasnya Sipadan-Ligitan dari NKRI
menjadi preseden buruk bagi negara ini dalam pengelolaan pulau-pulau
perbatasan.
ASAL NAMA NUNUKAN
Pada zaman dahulu yang dikenal adalah
kerajaan bulungan yang beragam suku bulungan, suku dayak, suku tidung. Suku
dayak mendiami daratan, suku tidung mendiami daerah pesisir dengan kehidupan
berkebun dan nelayan. Ada sebagian berburu serta mengambil hasil hutan seperti,
rotan, damar, gaharu dan sarang burung walet yang kesemuanya itu di jual
ketawau malaysia. Pada waktu itu satu-satunya pulau perbatasan yang masih hutan
belantara yang tidak berpenghuni. Tempat singgahnya para nelayan dan penjual
hasil-hasil hutan untuk berlabuh, pada subuh hari mereka menyebrang membawa
hasil-hasilnya mreka untuk di jual ketawau malaysia.
Saat itu salah satu nelayan kehabisan air dia
mencoba untuk mendekati pulau itu terlihat ada sungai kecil mereka telusuri,
tidak lama nelayan tsb bertemu satu Upun
Nunuk ( Dalam bahasa Tidung ) artinya dalam bahasa indonesia ( Pohon
beringin) Karena dulu di Nunukan terkenal karena banyak pohon beringinnya ,
di bawah pohon beringin itu ada sumber mata air yang jernih mereka gali di buat
lah sumur yang dalam bahasa Tidung ( Kupung ). Dari situ para Nelayan tadi
selalu ambil air di tempat itu apabila Kehabisan bekal airnya.
Karena
mereka selalu bertemu satu sama lainnya. Dengan menggunakan bahasa tidung,
apabila ia keluar dari pulau itu bertemu dengan perahu nelayan ia bertanya “
Entad demanai dudu “ yang baru keluar itu menjawab “ Entad upun nunukon ngalap
timuk“. Nah dalam arti bahasa indonesia yang bertanya dalam bahasa tidung (
Entade manai dudu “ Yaitu dalam bahasa indonesia ( Dari mana kamu ) Di jawab
yang keluar dari pulau itu dalam bahasa Tidung ( Entad de kupung deupun
Nunukan ngalap timok ) dlm bahasa Indonesia ( dari sumur Di pohon Nunukan
ambil air) dijawab lagi dlm bahasa tidung ( Baiskon timuk no ? ) artinya bagus
kah airnya? dijawab oleh yang satunya (
Bais ) artinya bagus. Maka dari situ pulau tempat mengambil air para nelayan
dan pedagang perahu untuk singgah.
Maka dari mulut kemulut menyebut pulau itu pulau
Nunukan, karena terkenalnya para nelayan dan pedagang disitu singgah
mengambil air. Penyebutan nunukan itu
sendiri beragam sesuai suku nya, akibat banyak nya suku pendatang ke Nunukan. Suku
Bugis menyebutnya Nunukang, sedangkan suku Jawa menyebut Nunukkan ( Dengan
logat orang jawa), suku banjar dia bilang Nunukan hingga di jaman kemerdekaan.
Hingga sampai pada suatu saat masuklah proyek
inhutani dengan bersama orang jepang untuk menggarap hutan dipulau ini yang di
sebut Pulau nunukan. Maka pohon nunuk tsb di Tebang oleh perusahaan
proyek inhutani untuk di jadikan gudang beras inhutani, karena sungai kecil tsb
bisa dimasuki kapal pengangkut beras dan areal pantainya dijadikan logpon untuk
penampungan kayu Log yang siap di eksport. Maka pulau Nunukan jadi kampung
nunukan banyak pedagang beragam suku masuk ke kampung nunukan dan tempat itu
jadi ramai tempat mes-mes para pekerja dan kantor PT.Inhutani dan kantor dinas
kehutanan. Hingga saat ini tempat itu masih mengeluarkan air walaupun kemarau.
Nunukan jadi kecamatan yang di bawa wilayah kab.Bulungan dan sekarang sudah
menjadi Kabupaten Nunukan.
Tetap jadi kota teransit keluar negri Tawau
malaysia, salah satu pelabuhan “ TUNON TAKA “ artinya yaitu Pelabuhan Kita dan
Salah satu simbol dr Gapura Kab.nunukan yaitu Penekindi de baya yang
artinya “Membangun bersama” , yang setiap harinya para pedagang, maupun TKI
Dari daerah lainnya singgah ke Tawau.
ASAL NAMA PULAU SEBATIK
Sedangkan penamaan pulau sebatik memiliki
sejarah/asal-usul tersendiri. Sebelum nama
Sebatik, wilayah ini dinamakan Tanjung Lalang yakni daerah yang kini
dinamakan Sungai Taiwan. Sebagaimana yang diketahui pulau sebatik dahulu
merupakan pulau yang dijadikan oleh Jepang sejak tahun 1912-1942 sebagai daerah
suplai sumber daya kayu bagi Jepang.
Yang kemudian belanda melakukan ekspedisi di Pulau Sebatik dan memberikan
Batasan antara negara Malaysia di sebelah utara dan selatan daerah Indonesia. Pada
saat ekspedisi tersebut mereka menemukan ular besar sejenis Sanca di sebuah
sungai yang kini bernama Sungai Taiwan. Masyarakat yang juga ikut serta dalam
ekspedisi tersebut melihat ular Sawah
Batik yang memiliki corak seperti Batik. kemudian nama tersebut diabadikan
menjadi nama Pulau Sebatik.
Semangaat yappsy
BalasHapusSangat bermanfaat sekali infonya kak 😆
BalasHapus