Uang Panai'; Sebatik's Unique Local Culture (Case Study; Popular culture affect local culture)
Sebatik merupakan daerah yang tidak memiliki penduduk asli. Sebagian besar penduduk
sebatik merupakan pelarian TKI dari Malaysia yang kemudian kembali ke Indonesia,
dan lebih memilih menetap di Sebatik yang tidak jauh dari Malaysia, yang mana
mereka sendiri merupakan pendatang dari Sulawesi dan sebagian besar merupakan suku
Bugis. Sehingga, tidak salah jika adat-istiadat yang dianut oleh masyarakat
Sebatik mengikuti adat yang dominan, yaitu adat suku Bugis, yang menjadi budaya
lokal Sebatik. Salah satu budaya lokal yang unik dan masih di pegang erat dalam
masyarakat Bugis di Sebatik ialah budaya siri’ na pacce yaitu uang panai’
yang telah menjadi tradisi dalam proses pernikahan budaya Bugis di Sebatik.
Adapun yang dimaksud dengan Uang Panai’
menurut (Koentjaraningrat: 1967) uang yang diberikan dan memiliki fungsi secara
ekonomis membawa pergeseran kekayaan, karena uang panai’ yang diberikan
mempunyai nilai tinggi. Secara sosial wanita mempunyai kedudukan yang tinggi
dan dihormati. Secara keseluruhan uang panai’ merupakan hadiah yang
diberikan calon mempelai laki-laki kepada calon istrinya untuk memenuhi
keperluan pernikahan.
Uang Panai’ menjadi tolak ukur seberapa berharga dan tingginya status
sosial suatu keluarga. Penentuan uang Panai’ umumnya ditentukan oleh status sosial yang disandang oleh
keluarga mempelai perempuan. Status sosial tersebut antara lain:
keturunan bangsawan, status pekerjaan, dan status ekonomi. Jadi, semakin baik
status sosial yang dimiliki pihak keluarga mempelai perempuan, semakin tinggi
uang belanja yang harus ditanggung oleh pihak laki-laki.
Namun, seiring
berjalannya waktu, status sosial yang digunakan dalam penentuan uang Panai’ juga dinilai dari
pendidikannya. Sehingga, Semakin tinggi pendidikan seorang perempuan maka uang
panai’nya semakin tinggi pula, begitupun sebaliknya. Adapun patokan harga dari
uang panai berdasarkan tingkat pendidikannya ialah seperti berikut (Tabel 1);
Pendidikan dapat kita
kategorikan sebagai popular cultural. Yang mana pada zaman dahulu pendidikan bukanlah menjadi hal pokok dalam kehidupan
berbudaya masyarakat bugis. Namun seiring
berjalannya waktu, pendidikan mempengaruhi budaya lokal masyarakat bugis
sehingga menjadi bagian penting dalam kehidupan meraka. Sehingga, disinilah
peran popular cultural (pendidikan) mempengaruhi local cultural (uang panai’)
yang menjadi bagian dari faktor tolak ukur kedudukan sosial masyarakat
bugis.
Sumber;
•
Koengtjaraningrat. 1967. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:
Rineka Cipta.
•
M Ikbal, P. Enrekang - The Indonesian Journal of
Islamic. (2016)- jurnalfsh.uinsby.ac.id

Ini istilah lainnya mahar kan? Walah, status pendidikan perempuan pun ada harganya ya :p
BalasHapusiya kak, bener ini istilah lain buat mahar hehe
Hapus